WICARA.CO.ID, PANGKEP – Universitas Negeri Makassar (UNM) kembali menghadirkan inovasi bagi masyarakat melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Skema Pemberdayaan Desa Binaan Tahun 2026 yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Salah satu inovasi yang diimplementasikan adalah pembangunan kandang sapi pintar (smart cattle farm) di Desa Tondongkura, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), sebagai upaya meningkatkan produktivitas peternakan melalui penerapan teknologi tepat guna.
Program dilatarbelakangi oleh sejumlah persoalan yang dihadapi peternak di Desa Tondongkura. Sistem pemeliharaan ternak yang masih konvensional menyebabkan pengelolaan pakan, kebersihan kandang, pemantauan kondisi ternak, dan pemanfaatan limbah belum berjalan optimal. Pada musim kemarau, berkurangnya hijauan juga menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan usaha peternakan
Program tersebut tidak hanya menghadirkan kandang yang lebih modern, tetapi mengintegrasikan teknologi tepat guna dengan peningkatan kapasitas peternak. Tim pengabdian memberikan pelatihan manajemen peternakan, pemantauan kondisi kandang, pembuatan cadangan pakan berbasis bahan lokal untuk menghadapi musim kemarau dan suhu ekstrem, serta pengolahan limbah ternak menjadi pupuk kompos yang bernilai ekonomis. Kegiatan pengabdian diketuai oleh Muhammad Hasimdengan anggota Akmal Hidayat, Hamida Hamris, dan Ummul Masir yang merupakan Dosen Mitra dari Politani Pangkep. Selain pembangunan kandang, tim juga memberikan pelatihan kepada kelompok peternak mengenai manajemen peternakan modern, pemanfaatan teknologi digital dalam monitoring ternak, sanitasi kandang, serta pemeliharaan sistem agar dapat dioperasikan secara mandiri oleh masyarakat.
Menurut Muhammad Hasim, konsep peternakan cerdas tidak berarti penggunaan perangkat digital, tetapi bagaimana teknologi mampu membantu peternak menyelesaikan persoalan nyata.
“Kami ingin smart cattle farm menjadi sistem yang benar-benar bermanfaat bagi peternak. Teknologi membantu pemantauan kandang, sementara pelatihan pakan dan pengolahan limbah memperkuat kemampuan masyarakat menghadapi musim kemarau dan meningkatkan produktivitas. Jadi, yang dibangun bukan hanya kandangnya, tetapi juga kapasitas peternaknya agar usaha dapat berlangsung secara lebih efisien dan berkelanjutan.”
Salah satu fokus pendampingan adalah ketahanan pakan ternak. Peternak dilatih memanfaatkan bahan lokal dan limbah pertanian untuk membuat serta menyimpan cadangan pakan. Langkah ini penting agar ketersediaan pakan tidak sepenuhnya bergantung pada hijauan segar, terutama ketika musim kemarau dan suhu ekstrem menyebabkan sumber pakan alami semakin terbatas. Program juga memperkenalkan konsep ekonomi sirkular melalui pengolahan limbah ternak menjadi pupuk kompos. Kotoran ternak yang sebelumnya berpotensi menjadi sumber pencemaran diolah menjadi produk yang dapat dimanfaatkan kembali pada lahan pertanian. Dengan demikian, aktivitas peternakan tidak hanya diarahkan pada peningkatan produktivitas, tetapi juga pada pengelolaan lingkungan yang lebih baik.
Kepala Desa Tondongkura, Muhammad Ikhlas mengapresiasi kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Menurutnya, program tersebut sesuai dengan kebutuhan desa karena tidak berhenti pada pembangunan fasilitas, tetapi disertai transfer pengetahuan kepada masyarakat.
“Kami mengapresiasi Universitas Negeri Makassar yang telah menjadikan Desa Tondongkura sebagai Desa Binaan. pengelolaan pakan, dan pemanfaatan limbah merupakan inovasi yang sangat bermanfaat bagi peternak. Harapan kami, Kelompok masyarakat mampu menjaga dan mengembangkan program ini, menjadi tempat belajar kepada masyarakat yang lain, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Dukungan juga disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Dzulfadhli. Ia mengapresiasi kontribusi sivitas akademika UNM melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan dan menilai inovasi smart cattle farm sebagai implementasi teknologi yang dibutuhkan masyarakat untuk meningkatkan daya saing sektor peternakan.
Melalui pembangunan smart cattle farm ini, Universitas Negeri Makassar menegaskan komitmennya dalam menghadirkan inovasi yang aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat. Program ini diharapkan menjadi model pengembangan peternakan cerdas di kawasan pedesaan, yang mampu meningkatkan efisiensi usaha, produktivitas ternak, serta kesejahteraan peternak melalui pemanfaatan teknologi tepat guna.
Leave a Reply