IAS Nakhodai Golkar Sulsel, Kisah Politik yang Dimulai dari Jas Milik Nurdin Halid

Pengukuhan IAS menjadi kader Golkar digelar di Hotel Four Points by Sheraton, Makassar, Sulsel, Minggu (29/5/2022).

WICARA.CO.ID, MAKASSAR — Empat tahun lalu, sebuah jas kuning milik Nurdin Halid dipasangkan ke tubuh Ilham Arief Sirajuddin. Saat itu, IAS—sapaan akrab mantan Wali Kota Makassar tersebut—baru saja meninggalkan Partai Demokrat dan memutuskan kembali ke rumah politik lamanya, Partai Golkar.

Jas itu ternyata bukan sekadar pakaian partai. Ia menjadi penanda dimulainya kembali perjalanan politik IAS bersama partai berlambang pohon beringin, hingga akhirnya terpilih sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan periode 2026–2031.

IAS ditetapkan secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Sulsel di Hotel Claro Makassar, Sabtu (18/7/2026) malam. Ia menjadi calon tunggal yang memenuhi seluruh persyaratan pencalonan setelah Munafri Arifuddin atau Appi tidak melanjutkan proses pencalonannya.

Keputusan sidang dibacakan oleh perwakilan DPP Partai Golkar, Mustafa Raja. Selain ditetapkan sebagai Ketua DPD I Golkar Sulsel, IAS juga dipercaya menjadi ketua formatur untuk menyusun komposisi kepengurusan partai lima tahun ke depan.

Namun, perjalanan IAS menuju kursi Ketua Golkar Sulsel tidak berlangsung dalam waktu singkat. Jejaknya dapat ditarik kembali ke Minggu, 29 Mei 2022, ketika dirinya resmi kembali mengenakan warna kuning.

Pengukuhan IAS sebagai kader Golkar berlangsung dalam acara halalbihalal kader Golkar dan relawan Airlangga Hartarto di Hotel Four Points by Sheraton Makassar. Di hadapan para kader, Nurdin Halid yang saat itu menjabat Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar memasangkan langsung jas kuning kepada IAS.

“Dengan jas ini saya pasangkan, itu adalah simbol IAS resmi menjadi anggota Partai Golkar,” kata Nurdin Halid ketika itu.

Jas yang dikenakan kepada IAS bahkan bukan jas baru yang disiapkan panitia. Jas tersebut merupakan milik Nurdin Halid sendiri. Karena itu, pemasangan jas kuning tersebut memiliki makna personal sekaligus politik.

“Dengan baju ini, simbol persahabatan NH dengan IAS. Dengan jaket ini, NH di hati IAS, IAS di hati NH,” ujar Nurdin.

IAS menyambut pengukuhan tersebut dengan pernyataan yang kemudian melekat dalam perjalanan politiknya. Ukuran jas yang pas, menurut IAS, mencerminkan kesesuaian hati dan langkah politiknya bersama Nurdin Halid.

“Insyaallah hari ini saya dipakaikan jas Pak Nurdin dan baju ini benar-benar pas. Ini menandakan bahwa hati saya dengan Pak Nurdin memang sudah pas,” kata IAS, disambut tepuk tangan para tamu undangan.

Puluhan pendukung IAS turut mengantar kepulangannya ke Golkar. Mereka mengenakan kaus kuning bertuliskan “Aco Is Back”, sebuah pesan bahwa Aco—sapaan lain IAS—telah kembali ke partai yang pernah menjadi tempat awal perjalanan politiknya.

Bagi IAS, Golkar bukan rumah baru. Ia menyebut partai beringin sebagai rumah lama yang kembali menerimanya setelah menjalani perjalanan politik bersama Partai Demokrat.

Sejak hari itu, Nurdin Halid menunjukkan keyakinannya terhadap kapasitas politik IAS. Nurdin bahkan menyampaikan bahwa DPP Golkar akan memberikan posisi strategis kepada mantan Wali Kota Makassar dua periode tersebut.

“Dalam waktu tidak lama, Pak Ilham ini akan diberikan jabatan oleh DPP Golkar,” kata Nurdin seusai pengukuhan IAS pada 2022.

Empat tahun kemudian, dukungan itu kembali terlihat menjelang Musda XI Golkar Sulsel. IAS memperoleh diskresi dari Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia untuk mencalonkan diri sebagai Ketua DPD I Golkar Sulsel.

Diskresi dibutuhkan karena IAS pernah berpindah partai dan masa keanggotaannya sejak kembali ke Golkar belum memenuhi ketentuan minimal lima tahun. Nurdin Halid turut mendampingi IAS ketika surat diskresi tersebut diserahkan di Kantor DPP Partai Golkar di Jakarta.

Meski mendapatkan diskresi, Nurdin menegaskan IAS tetap harus memenuhi ketentuan organisasi, termasuk memperoleh dukungan minimal 30 persen dari pemilik suara. IAS pun diminta melakukan komunikasi dan meyakinkan jajaran DPD II Golkar kabupaten dan kota.

Menurut Nurdin, pemberian diskresi menunjukkan adanya kepercayaan DPP terhadap potensi IAS untuk mengembalikan kejayaan Golkar di Sulawesi Selatan. Sebagai kader senior, Nurdin juga menyatakan dukungannya terhadap langkah IAS mengikuti Musda.

Dinamika menjelang Musda sempat menghangat ketika nama IAS dan Appi sama-sama menguat sebagai calon ketua. Namun, Appi akhirnya tidak mengembalikan formulir pendaftaran dan tidak menghadiri Musda.

Nurdin Halid mengapresiasi sikap Appi yang memilih tidak melanjutkan pencalonan. Menurutnya, keputusan tersebut menunjukkan loyalitas dan kedewasaan seorang kader dalam menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI itu juga menilai Musda XI Golkar Sulsel telah mempertontonkan proses demokrasi yang beradab. Meskipun sebelumnya diwarnai berbagai dinamika, seluruh kader tetap menjunjung tinggi asas kekeluargaan dan semangat gotong royong.

Bagi Nurdin, perbedaan pilihan dan persaingan dalam Musda merupakan bagian dari kehidupan organisasi. Namun, setelah keputusan ditetapkan, seluruh kekuatan partai harus kembali disatukan untuk menghadapi agenda politik berikutnya.

Terpilihnya IAS secara aklamasi sekaligus menjawab perjalanan politik yang dimulainya sejak mengenakan jas kuning milik Nurdin Halid pada 2022.

Kini, jas yang dahulu disebut benar-benar pas itu telah membawa simbol baru. IAS tidak lagi sekadar kembali menjadi kader Golkar, tetapi dipercaya menjadi nakhoda partai tersebut di Sulawesi Selatan.

IAS berkomitmen menjalankan rekomendasi Musda dan memperkuat konsolidasi hingga tingkat kabupaten, kota, kecamatan, dan kelurahan. Ia juga memasang target peningkatan perolehan kursi Golkar pada Pemilu 2029.

Golkar Sulsel menargetkan kursi DPR RI meningkat dari empat menjadi sedikitnya enam kursi. Di DPRD Sulsel, targetnya naik dari 14 menjadi 21 kursi, sementara kursi DPRD kabupaten dan kota ditargetkan bertambah dari 138 menjadi mendekati 200 kursi.

Leave a Reply