Sinrilik: Suara Ingatan Orang Makassar yang Tidak Boleh Padam

Dr. Abd. Rahim, S.E., M.Pd.

Oleh: Dr. Abd. Rahim, S.E., M.Pd.

WICARA.CO.ID, MAKASSAR — Sinrilik bukan sekadar seni tutur lama. Ia adalah napas kebudayaan Makassar yang menyimpan sejarah, nilai, rasa, dan kebijaksanaan hidup masyarakatnya. Di dalam sinrilik, kita tidak hanya mendengar alunan kisah, tetapi juga membaca cara orang Makassar memandang kehidupan, kehormatan, keberanian, cinta, pengorbanan, dan harga diri. Karena itu, ketika sinrilik mulai jarang diperdengarkan, sesungguhnya yang sedang terancam bukan hanya satu bentuk kesenian, melainkan satu ruang ingatan kolektif yang selama berabad-abad menjaga jati diri masyarakat Makassar.

Dalam tradisi Makassar, sinrilik memiliki kedudukan penting sebagai sastra lisan yang memadukan narasi, irama, emosi, dan pesan moral. Ia tidak hadir hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan budaya. Melalui sinrilik, generasi terdahulu menanamkan nilai siri’ na pacce, keteguhan sikap, kesetiaan, tanggung jawab, dan penghormatan kepada sesama. Di sinilah keistimewaan sinrilik: ia mengajarkan tanpa menggurui, menyentuh tanpa memaksa, dan membentuk karakter melalui keindahan bahasa.

Namun, harus diakui bahwa keberadaan sinrilik hari ini berada dalam situasi yang tidak mudah. Perubahan zaman, dominasi budaya populer, melemahnya pewarisan bahasa daerah, serta berkurangnya ruang pertunjukan tradisional membuat sinrilik perlahan bergeser dari kehidupan masyarakat. Anak-anak muda lebih akrab dengan konten digital yang cepat dan ringan, sementara sinrilik dianggap jauh, tua, dan tidak lagi relevan. Padahal, yang membuat sinrilik terasa jauh bukan karena ia kehilangan makna, tetapi karena kita gagal menghadirkannya kembali dengan cara yang dekat dengan generasi sekarang.

Pemertahanan sinrilik tidak cukup dilakukan dengan nostalgia. Kita tidak bisa hanya mengatakan bahwa sinrilik penting, lalu membiarkannya hidup di ruang-ruang seremonial yang terbatas. Sinrilik harus ditarik kembali ke ruang pendidikan, ruang digital, ruang komunitas, dan ruang kreatif anak muda. Sekolah, kampus, sanggar seni, pemerintah daerah, dan pegiat kebudayaan perlu menjadikan sinrilik sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran budaya. Ia dapat diajarkan melalui muatan lokal, festival sastra lisan, lomba tutur, dokumentasi digital, podcast budaya, video pendek, hingga pertunjukan modern yang tetap menghormati akar tradisinya.

Tantangan terbesar pemertahanan sinrilik adalah bagaimana menjadikannya tetap otentik sekaligus komunikatif. Kita tidak boleh mengubah sinrilik hingga kehilangan ruh tradisinya, tetapi kita juga tidak boleh membiarkannya terkurung dalam bentuk lama yang sulit dijangkau generasi baru. Di sinilah diperlukan kreativitas budaya. Sinrilik bisa dikemas ulang tanpa dicabut dari akar Makassarnya. Bahasa, nilai, dan struktur estetiknya harus tetap dijaga, tetapi medium penyampaiannya dapat diperluas sesuai perkembangan zaman.

Lebih dari itu, pemertahanan sinrilik harus dimulai dari kesadaran bahwa bahasa daerah adalah rumah bagi kebudayaan. Jika bahasa Makassar semakin jarang digunakan, maka sinrilik juga akan kehilangan tanah tempat ia tumbuh. Karena itu, menjaga sinrilik berarti juga menjaga bahasa Makassar. Keluarga perlu kembali memberi ruang bagi bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari. Sekolah perlu menempatkan bahasa dan sastra daerah bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai bagian penting dari pembentukan identitas peserta didik.

Sinrilik adalah warisan yang tidak boleh hanya disimpan dalam arsip. Ia harus diperdengarkan, dipelajari, dipentaskan, diteliti, dan diwariskan. Sebab kebudayaan tidak akan hidup hanya karena dicatat, tetapi karena terus dipraktikkan. Ketika generasi muda mampu mengenal sinrilik, memahami nilai-nilainya, lalu mengekspresikannya kembali dengan cara mereka sendiri, maka pada saat itulah tradisi benar-benar hidup.

Pemertahanan sinrilik bukan pekerjaan satu orang atau satu lembaga. Ini adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah harus hadir melalui kebijakan dan dukungan anggaran. Dunia pendidikan harus hadir melalui kurikulum dan pembelajaran. Seniman harus hadir melalui karya dan pertunjukan. Media harus hadir melalui publikasi. Keluarga dan masyarakat harus hadir melalui kebiasaan berbahasa dan penghargaan terhadap budaya sendiri.

Jika sinrilik hilang, kita tidak hanya kehilangan satu bentuk sastra lisan. Kita kehilangan suara leluhur, kehilangan arsip batin masyarakat Makassar, dan kehilangan salah satu cermin terbaik untuk memahami siapa diri kita. Maka, mempertahankan sinrilik bukan sekadar menjaga masa lalu, tetapi menyelamatkan masa depan kebudayaan Makassar. Sinrilik harus terus hidup, bukan hanya sebagai kenangan, tetapi sebagai suara yang tetap bergetar dalam jiwa generasi hari ini dan generasi yang akan datang.

Leave a Reply