Gen Z dan Bahasa Daerah: Jangan Salahkan Anak Muda, Hidupkan Ruangnya

Oleh: Dr. Abd. Rahim, S.E., M.Pd (Dosen FBS UNM)

Oleh: Dr. Abd. Rahim, S.E., M.Pd (Dosen FBS UNM)

WICARA.CO.ID, MAKASAR — Bahasa daerah hari ini sedang berada di persimpangan penting. Di satu sisi, Indonesia memiliki kekayaan bahasa yang sangat besar. Badan Bahasa mencatat Indonesia memiliki 718 bahasa daerah yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara. Namun, di sisi lain, sebagian bahasa daerah berada dalam kondisi rentan, terancam punah, kritis, bahkan ada yang telah punah. Data Badan Bahasa tahun 2024 menunjukkan dari 718 bahasa daerah tersebut, hanya 18 yang berstatus aman, sementara 21 rentan, 29 terancam punah, 8 kritis, dan 5 telah punah.

Di tengah situasi itu, Generasi Z sering kali menjadi pihak yang disalahkan. Mereka dianggap tidak lagi peduli pada bahasa daerah. Mereka dinilai lebih bangga memakai bahasa gaul, bahasa Indonesia populer, atau bahasa asing daripada bahasa ibunya sendiri. Mereka lebih fasih membuat konten media sosial daripada berbicara dalam bahasa daerah. Namun, benarkah Gen Z sepenuhnya bersalah? Ataukah justru kita, orang dewasa, keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial, yang gagal menyediakan ruang hidup bagi bahasa daerah?

Kita harus jujur bahwa bahasa tidak hidup hanya karena diajarkan, tetapi karena digunakan. Bahasa daerah tidak akan bertahan jika hanya hadir dalam buku muatan lokal, lomba tahunan, atau sambutan seremonial. Bahasa daerah akan hidup jika digunakan di rumah, di sekolah, di pasar, di ruang pergaulan, di media sosial, di lagu, di film pendek, di konten digital, dan dalam percakapan sehari-hari. Masalahnya, banyak anak muda tidak lagi memiliki ruang yang nyaman untuk menggunakan bahasa daerah. Ketika mereka berbicara bahasa daerah, kadang dianggap kampungan. Ketika salah melafalkan, mereka ditertawakan. Akibatnya, mereka memilih diam atau beralih ke bahasa yang dianggap lebih aman secara sosial.

Gen Z sesungguhnya bukan generasi yang anti bahasa daerah. Mereka adalah generasi yang tumbuh dalam ekosistem baru. Mereka hidup bersama TikTok, Instagram, YouTube, gim daring, kecerdasan buatan, dan budaya visual yang sangat cepat. Karena itu, pendekatan pelestarian bahasa daerah tidak bisa hanya memakai cara lama. Jika bahasa daerah ingin dekat dengan Gen Z, maka bahasa daerah juga harus masuk ke ruang hidup Gen Z. Ia harus hadir dalam konten pendek, komik digital, musik, meme, siniar, film pendek, gim edukatif, desain visual, dan percakapan kreatif anak muda.

Pemerintah sebenarnya telah melihat pentingnya generasi muda dalam pelestarian bahasa daerah. Program Revitalisasi Bahasa Daerah yang dijalankan Kemendikdasmen melalui Badan Bahasa menargetkan generasi muda agar mampu mempertahankan bahasa daerah melalui pembelajaran di sekolah serta penggunaan aktif di lingkungan keluarga dan masyarakat. Pada periode 2021–2024, program ini telah menjangkau 38 provinsi dengan 114 bahasa daerah. Hingga 2025, revitalisasi bahkan telah dilakukan terhadap 120 bahasa daerah di 38 provinsi melalui kolaborasi pemerintah pusat, daerah, satuan pendidikan, dan masyarakat.

Namun, program sebesar apa pun tidak akan cukup jika bahasa daerah hanya dipandang sebagai warisan masa lalu. Bahasa daerah harus diperlakukan sebagai bahasa masa depan. Anak muda perlu diyakinkan bahwa menggunakan bahasa daerah bukan tanda tertinggal, melainkan tanda memiliki akar. Seorang Gen Z yang mampu berbahasa Bugis, Makassar, Jawa, Sunda, Mandar, Toraja, Batak, Minang, Bali, Dayak, Sasak, Papua, atau bahasa daerah lainnya bukanlah anak yang ketinggalan zaman. Ia justru memiliki kekayaan identitas yang tidak dimiliki semua orang.

Kesalahan kita selama ini adalah sering menempatkan bahasa daerah dalam bingkai nostalgia. Bahasa daerah hanya dibicarakan ketika Hari Bahasa Ibu, festival budaya, atau acara adat. Padahal, bahasa daerah seharusnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia bisa menjadi bahasa kasih sayang di rumah, bahasa humor di tongkrongan, bahasa ekspresi di media sosial, bahasa karya seni, bahkan bahasa kritik sosial. Bahasa daerah tidak harus selalu tampil kaku, sakral, dan jauh dari anak muda. Ia boleh lucu, segar, kreatif, dan mengikuti perkembangan zaman selama nilai dasarnya tetap dijaga.

Sekolah memiliki peran penting dalam hal ini. Pembelajaran bahasa daerah jangan hanya dibebani hafalan kosakata, aksara, atau struktur kalimat. Guru perlu membawa bahasa daerah ke dalam praktik yang hidup: membuat vlog berbahasa daerah, menulis puisi lokal, mendongeng, membuat drama pendek, menerjemahkan cerita rakyat, membuat kamus digital mini, atau membuat konten edukatif berbahasa daerah. Dengan cara itu, peserta didik tidak merasa bahasa daerah sebagai pelajaran yang jauh dari kehidupan, tetapi sebagai alat ekspresi yang dekat dengan dirinya.

Keluarga juga menjadi benteng utama. Banyak orang tua ingin anaknya mengenal bahasa daerah, tetapi justru jarang menggunakannya di rumah. Ada pula orang tua yang terlalu khawatir anaknya akan terganggu kemampuan bahasa Indonesianya jika memakai bahasa daerah. Padahal, kemampuan berbahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa asing dapat saling memperkaya jika digunakan secara seimbang. Anak yang mengenal bahasa ibunya sejak dini akan memiliki kedekatan emosional dengan keluarga, leluhur, dan kebudayaannya.

Di sisi lain, Gen Z juga perlu mengambil peran. Jangan hanya menjadi penonton ketika bahasa daerah perlahan menghilang. Anak muda dapat menjadi penyelamat bahasa daerah dengan cara yang sesuai zamannya. Buatlah konten lucu berbahasa daerah. Gunakan ungkapan lokal dalam caption. Nyanyikan lagu daerah dengan aransemen baru. Dokumentasikan cerita nenek dan kakek. Buat kamus kecil di media sosial. Tulis puisi, cerpen, atau dialog pendek dalam bahasa daerah. Pelestarian tidak selalu harus dimulai dari proyek besar; ia bisa dimulai dari unggahan sederhana yang konsisten.

Bahasa daerah bukan lawan dari bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia adalah pemersatu bangsa, sedangkan bahasa daerah adalah akar kebudayaan bangsa. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Justru Indonesia menjadi kuat karena memiliki bahasa nasional yang menyatukan dan bahasa daerah yang memperkaya. Kehilangan bahasa daerah berarti kehilangan cara berpikir, rasa, humor, sopan santun, sejarah, dan kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat.

Karena itu, jangan buru-buru menyalahkan Gen Z. Mereka tidak selalu meninggalkan bahasa daerah karena tidak peduli. Bisa jadi mereka tidak pernah diberi ruang, tidak pernah diajak dengan cara yang menarik, atau tidak pernah melihat bahasa daerah tampil membanggakan di ruang modern. Tugas kita bukan memarahi anak muda, tetapi membuka jalan agar mereka merasa memiliki.

Pada akhirnya, masa depan bahasa daerah sangat bergantung pada keberanian kita menjadikannya hidup kembali. Bukan hanya di panggung budaya, tetapi juga di layar gawai. Bukan hanya dalam pidato pejabat, tetapi juga dalam percakapan anak muda. Bukan hanya dalam buku pelajaran, tetapi juga dalam karya kreatif Gen Z. Jika bahasa daerah mampu masuk ke dunia mereka, maka bahasa daerah tidak akan menjadi kenangan. Ia akan tetap tumbuh sebagai suara, identitas, dan kebanggaan Nusantara.

Leave a Reply