Andi Agussalim AJ, Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra UNM, Pakar Sastra Lisan Pertunjukan, dan Pakkacapi.
WICARA.CO.ID, MAKASSAR— Sejengkal waktu mengusung kita pada suatu paradigma langka. Mencoba mengawinkan Sastra Lisan Pertunjukan—yang sering disalahpahami sebagai “masa lalu yang statis”—dengan Dekonstruksi Derridean untuk membedah Kepemimpinan Perguruan Tinggi Masa Depan.
Di tengah arus teknologi, banyak orang terjebak membahas AI, Big Data, atau Metaverse secara teknis. Kita akan membalikkan logika itu. Kita akan melihat bahwa universitas masa depan tidak dipimpin oleh seorang “manajer korporat”, melainkan oleh seorang “Sutradara/Pencerita Lisan” yang piawai mengelola kehadiran dan ketidakhadiran/ketiadaan.
Logoresentrisme Kampus Digital
Perguruan tinggi hari ini sedang mengalami gegar eksistensial. Di bawah guyuran deras teknologi kecerdasan buatan, universitas sibuk mendefinisikan ulang dirinya melalui diktum-diktum tertulis: kurikulum baku, indikator kinerja utama (IKU), dan regulasi digital yang kaku. Kita terjebak dalam apa yang disebut Jacques Derrida sebagai logoresentrisme—pemujaan berlebih pada teks tertulis, sistem yang mapan, dan keteraturan yang semu. Kepemimpinan kampus dipandang sebagai mesin birokrasi yang menggerakkan teks-teks tersebut.
Namun, di era di mana teks bisa diproduksi secara massal oleh algoritma, apa yang tersisa dari otoritas kepemimpinan? Jawabannya justru merayap dari wilayah yang sering dianggap purba, yakni Sastra Lisan Pertunjukan. Kita perlu melihat kepemimpinan masa depan bukan sebagai kepatuhan teks, melainkan sebagai sebuah performa transisional yang terus-menerus menguji batas-batas dirinya.
Menolak Teks Kaku dan Pemimpin sebagai Pembawa Sastra Lisan: suatu paradoks “kehadiran” dan Estetika Pertunjukan.
Dalam Sastra Lisan Pertunjukan, sebuah cerita tidak pernah benar-benar sama setiap kali dibawakan. Ada variasi, adaptasi spontan, dan ruang kosong yang diisi oleh interaksi antara penutur (pawang/pencerita) dan penonton. Teks lisan bersifat cair dan dinamis.
Di sinilah dekonstruksi bekerja mengubah paradigma kepemimpinan perguruan tinggi. Paradigma lama, Pemimpin adalah eksekutor cetak biru (tata kelola tertulis) yang rigid. Sedangkan paradigma baru (Dekonstruktif), pemimpin adalah “penutur” yang sadar bahwa stabilitas institusi di era digital adalah ilusi.
Struktur perguruan tinggi masa depan tidak boleh lagi dikunci oleh naskah birokrasi yang kaku, melainkan harus dikelola seperti pertunjukan lisan—memiliki struktur dasar yang kuat, namun sangat adaptif, improvisatif, dan responsif terhadap “gemuruh penonton” (perubahan zaman).
Mari kita memperhatikan tuturan masa kini yang mapan yang bersifat positivistik-metrik, misalnya: “Target kita tahun ini adalah menaikkan klasterisasi universitas, mencapai 100% IKU (Indikator Kinerja Utama), dan mengotomatisasi seluruh layanan kampus dengan AI. Semua harus terukur secara presisi dalam sistem digital.”
Jika menggunakan pisau Dekonstruksi Derridean, tuturan ini mengasumsikan bahwa kualitas pendidikan bisa “dihadirkan secara utuh” (metaphysics of presence) melalui angka dan statistik digital. Padahal atau secara Kontradiksi bahwa semakin kampus terobsesi pada angka digital, semakin kampus kehilangan “kehadiran manusiawi” (human presence). Angka-angka tersebut sebenarnya menunda (différance) makna pendidikan yang sesungguhnya.
Jika direkonstruksi dalam basis Sastra Lisan Pertunjukan maka sastra lisan pada dasarnya mengajarkan bahwa kekuatan sebuah pertunjukan tidak diukur dari jumlah kata yang diucapkan (kuantitas), melainkan dari katarsis (dampak emosional dan spiritual) yang dirasakan penonton. Kepemimpinan masa depan harus mengubah ragam tutur tersebut menjadi:
“Teknologi dan angka IKU hanyalah ‘panggung instrumen’. Fokus kita bukan pada statistiknya, melainkan pada ‘katarsis akademis’—bagaimana teknologi ini membebaskan waktu dosen dan mahasiswa untuk melahirkan lompatan pemikiran baru di ruang kelas.”
Différance dalam Kepemimpinan: Mengelola yang “Tidak Terbaca”
Derrida mengenalkan konsep différance—bahwa makna selalu Ditunda dan Berbeda. Dalam sastra lisan, makna sebuah pertunjukan tidak hanya terletak pada kata yang diucapkan, tetapi pada jeda, intonasi, dan apa yang tidak dikatakan (senyap).
Pemimpin perguruan tinggi masa depan di era teknologi tidak boleh lagi sekadar mengejar angka-angka pasti yang tampak di permukaan (kepemimpinan positivistik). Mereka harus menjadi pembaca yang jeli terhadap kehadiran yang absen. Di balik megahnya infrastruktur digital dan automasi kampus, ada aspek kemanusiaan, etika, dan “jiwa” akademis yang sering tergerus (absen). Kepemimpinan dekonstruktif justru berfokus pada ruang jeda ini—memastikan bahwa teknologi tidak mematikan dialektika manusia, melainkan menghidupkan kembali tradisi “mimbar lisan” yang merdeka.
Contoh lain tuturan masa kini yang mapan, bersifat hegemonik-struktural:
“Berdasarkan Statuta dan Peraturan Rektor Nomor X, segala bentuk inovasi dan kerja sama prodi harus melalui persetujuan berjenjang dari Dekan hingga Senat, demi menjaga ketertiban tata pamong.”
Bila kita gunakan Pisau Dekonstruksi Derridean, pada dasarnya tuturan ini memperlakukan aturan tertulis (Statuta/Peraturan Rektor) sebagai “Teks Suci” yang absolut dan tidak boleh cacat. Ini adalah bentuk penindasan teks terhadap realitas yang cair. Pemimpin berlindung di balik “naskah” karena takut pada ketidakpastian.
Rekonstruksinya, bahwa dalam sastra lisan (seperti teater rakyat atau tradisi tutur spontan), tidak ada naskah yang mutlak. Yang ada adalah pakem (struktur dasar) dan improvisasi. Seorang dalang atau penutur ulung tahu kapan harus keluar dari pakem demi menyelamatkan pertunjukan dari kebosanan penonton. Kepemimpinan masa depan harus bertutur:
“Aturan tertulis kita adalah batas minimal, bukan batas maksimal. Di tengah arus teknologi yang cepat, prodi memiliki ruang ‘improvisasi spontan’ untuk berinovasi. Tugas rektorat bukan menjadi polisi teks yang menyemprit kesalahan, melainkan dirigen yang menjaga harmoni improvisasi tersebut.”
Satu lagi Tuturan Masa Kini yang Mapan bersifat Korporatisasi-Komodifikasi.
“Kita harus memperlakukan mahasiswa sebagai konsumen institusi. Lulusan kita harus menjadi produk yang siap pakai dan langsung diserap oleh pasar industri digital.”
Irisan Pisau Dekonstruksi Derridean menunjukan bahwa
tuturan ini mereduksi universitas menjadi sekadar sub-kontraktor industri. Dekonstruksi melihat adanya marginalisasi terhadap tugas utama perguruan tinggi sebagai penjaga moral dan etika sains. Ketika mahasiswa disebut “produk”, maka nilai kemanusiaannya sedang “diabsenkan”.
Rekonstruksinya, bahwa Sastra lisan tradisional (seperti Massureq, Sinrilik, atau Elong Corita) tidak pernah memposisikan penonton sebagai “konsumen” yang pasif, melainkan sebagai apresiator dan bagian dari pertunjukan itu sendiri (tanpa respon penonton, sastra lisan mati). Kepemimpinan masa depan harus mendekonstruksinya menjadi: “Mahasiswa bukan produk siap pakai untuk industri, mereka adalah ‘rekan penutur’ dalam ekosistem pengetahuan kita. Kampus masa depan tidak mencetak pekerja robotik—karena itu porsinya AI—melainkan membentuk manusia yang mampu menuturkan arah peradaban baru di tengah kemajuan teknologi.”
Bagaimana Pemimpin Perguruan Tinggi berperan sebagai Sutradara Epistemologis?
Masa depan perguruan tinggi tidak ditentukan oleh seberapa canggih sistem perangkat lunak yang dibeli oleh birokrasi, melainkan oleh seberapa lentur pemimpinnya dalam menari di antara teks yang mapan dan realitas yang terus berubah.
Dengan memandang kepemimpinan melalui lensa Sastra Lisan Pertunjukan yang didekonstruksi, kita meruntuhkan berhala kepemimpinan korporat-teknokratis yang kering.
Pemimpin perguruan tinggi masa depan adalah seorang seniman pertunjukan epistemologis. Ia tidak lagi sekadar mendiktekan aturan tertulis, melainkan menuturkan narasi masa depan secara lisan, mengelola jeda, merayakan ketidakpastian, dan memimpin kampus bukan sebagai museum teks yang mati, melainkan sebagai panggung pertunjukan pemikiran yang terus hidup dan bergerak.
Leave a Reply