oleh: Dr. Noer Intan Novitasari, M.Pd. (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)
WICARA.CO.ID, MAKASSAR — Setiap kali mutu guru menjadi pembahasan, pelatihan hampir selalu muncul sebagai jawaban pertama. Diklat diselenggarakan, materi diberikan, lalu sertifikat diterbitkan. Lama-kelamaan muncul anggapan bahwa peningkatan kompetensi guru terutama ditentukan oleh pelatihan yang diikutinya. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Namun, ada satu pertanyaan yang patut diajukan. Dari manakah sebenarnya guru belajar?
Selama ini, pembelajaran guru kerap dipahami sebagai sesuatu yang berlangsung dalam kegiatan yang memang dirancang untuk tujuan tersebut. Padahal, banyak hal penting justru dipelajari guru dalam kesehariannya menjalankan profesi. Percakapan dengan rekan sejawat, pengamatan terhadap cara mengajar kolega, maupun refleksi atas pembelajaran yang tidak berjalan sesuai harapan merupakan bagian dari proses belajar yang nyata. Pengalaman-pengalaman semacam itu mungkin tidak menghasilkan sertifikat atau angka kredit tertentu, tetapi sering kali memberi pengaruh yang lebih mendalam terhadap cara guru memahami dan menjalankan pekerjaannya.
Kajian mengenai pengembangan profesional guru telah lama menunjukkan bahwa pengalaman kerja merupakan sumber pembelajaran yang tidak kalah penting dibandingkan pelatihan. Sebagian pengetahuan memang diperoleh melalui kegiatan yang terencana seperti diklat, supervisi, atau forum pengembangan profesi. Namun, tidak sedikit keterampilan yang terbentuk melalui perjumpaan dengan berbagai persoalan di kelas, interaksi dengan sesama guru, serta upaya memperbaiki praktik pembelajaran dari waktu ke waktu. Sayangnya, tidak semua proses belajar tersebut memperoleh perhatian yang sama. Kita lebih mudah menghargai kegiatan yang dapat dibuktikan melalui dokumen daripada pembelajaran yang perlahan membentuk kematangan profesional seorang guru.
Perkara inilah yang perlu mendapat perhatian lebih serius. Bukan karena pelatihan tidak penting, melainkan karena pembelajaran guru jauh lebih luas daripada yang selama ini dibayangkan. Guru tidak hanya belajar ketika mengikuti pelatihan. Guru juga belajar ketika mengajar, ketika menghadapi kesulitan, ketika berdiskusi dengan sejawat, dan ketika merenungkan pengalaman yang dijalaninya. Oleh karena itu, sekolah perlu dipandang bukan hanya sebagai tempat guru bekerja, tetapi juga sebagai tempat guru terus belajar. Pada akhirnya, guru yang berkembang bukan semata-mata mereka yang paling sering mengikuti pelatihan, melainkan mereka yang terus mengambil pelajaran dari pengalaman profesinya sendiri.
Leave a Reply