Oleh: Muh. Herisman (Dosen PPKn UNM)
Hari ini kita sedang hidup di zaman yang aneh. Anak-anak muda makin cepat menguasai teknologi, tetapi makin lambat memahami etika. Mereka bisa mengedit video dalam hitungan menit, tetapi sulit mengendalikan emosi dalam hitungan detik. Mereka hafal tren viral terbaru, tetapi lupa bagaimana cara menghormati orang lain. Inilah wajah generasi digital kita hari ini: generasi TikTok. TikTok sebenarnya hanyalah aplikasi hiburan. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, platform ini perlahan berubah menjadi ruang sosial terbesar generasi muda. Di sana orang mencari hiburan, pengakuan, perhatian, bahkan identitas diri. Masalahnya, algoritma media sosial tidak bekerja berdasarkan nilai moral. Yang diprioritaskan adalah apa yang paling ramai ditonton, paling memancing emosi, dan paling cepat viral. Akibatnya, banyak anak muda sekarang tumbuh dalam budaya instan: instan terkenal, instan marah, instan menghina, dan instan menghakimi.
Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet Indonesia tahun 2026 mencapai sekitar 235,3 juta jiwa atau lebih dari 82 persen populasi nasional. Angka itu meningkat sekitar 6 juta pengguna dibanding tahun sebelumnya. Aktivitas paling dominan masyarakat Indonesia di internet adalah penggunaan media sosial dan hiburan digital. Artinya, sebagian besar kehidupan sosial generasi muda sekarang berlangsung di ruang digital. Masalahnya, perkembangan teknologi ternyata jauh lebih cepat dibanding kesiapan moral masyarakat dalam menghadapinya. Hari ini media sosial dipenuhi budaya menghina, mempermalukan, dan menghakimi. Sedikit salah langsung viral. Sedikit berbeda langsung dihujat ramai-ramai. Orang tidak lagi diberi ruang untuk memperbaiki diri karena publik lebih suka menghakimi daripada memahami. Yang lebih berbahaya, perilaku kasar sekarang justru dianggap keren. Orang yang berbicara lembut dianggap lemah. Orang santun dianggap tidak gaul. Semakin tajam seseorang menghina orang lain, semakin besar peluangnya viral. Dan generasi muda pelan-pelan belajar bahwa perhatian lebih penting daripada kesopanan.
Kita bisa melihat sendiri bagaimana banyak konten TikTok hari ini dipenuhi prank berlebihan, penghinaan verbal, eksploitasi keluarga, pamer kemewahan, sampai budaya flexing yang tidak sehat. Banyak anak muda rela melakukan apa saja demi views dan followers. Bahkan tidak sedikit yang mempermalukan dirinya sendiri demi masuk FYP. Belum lama ini publik juga dihebohkan berbagai kasus siswa yang menghina guru demi konten media sosial. Ada murid yang merekam gurunya lalu dijadikan bahan candaan di TikTok. Ada pula siswa yang membentak guru ketika ditegur soal disiplin. Yang lebih menyedihkan, video seperti itu justru mendapat ribuan komentar lucu dan dukungan. Dulu mempermalukan guru dianggap aib besar. Sekarang malah dianggap hiburan. Kita sedang menyaksikan generasi yang tumbuh dengan logika viralitas, bukan logika etika.
Pemerintah sendiri mulai melihat situasi ini sebagai ancaman serius. Berdasarkan keterangan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, TikTok telah menonaktifkan sekitar 1,7 juta akun pengguna di bawah usia 16 tahun di Indonesia dalam rangka implementasi aturan perlindungan anak di ruang digital atau PP Tunas. Angka itu menunjukkan bahwa jutaan anak Indonesia sudah hidup sangat dekat dengan media sosial sejak usia dini. Masalahnya, anak-anak hari ini tumbuh lebih dekat dengan algoritma dibanding nasihat orang tua. Di banyak rumah sekarang, anak sibuk dengan TikTok, sementara orang tua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Meja makan yang dulu menjadi ruang berbagi cerita perlahan berubah menjadi ruangan sunyi penuh layar handphone. Anak-anak akhirnya belajar lebih banyak dari internet dibanding dari keluarganya sendiri. Mereka cepat belajar cara membuat konten viral, tetapi lambat belajar bagaimana menghormati orang lain. Mereka pintar berbicara di depan kamera, tetapi kesulitan berbicara sopan di dunia nyata.
Di sekolah juga begitu. Pendidikan kita terlalu fokus mengejar nilai akademik. Anak dipaksa pintar matematika, bahasa Inggris, dan teknologi, tetapi lupa diajarkan bagaimana menjadi manusia yang beretika. Akibatnya lahirlah generasi yang cerdas secara digital tetapi miskin kedewasaan emosional. Padahal bangsa besar tidak hanya dibangun oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kualitas moral manusianya. Yang lebih mengkhawatirkan, media sosial perlahan mengubah cara generasi muda memandang hidup. Nilai seseorang sekarang sering diukur dari jumlah followers, likes, dan viewers. Banyak anak muda merasa tidak percaya diri kalau tidak viral. Mereka berlomba mencari validasi sosial di internet.
Berdasarkan kutipan di berbagai forum internet Indonesia dan diskusi warganet di media sosial, keresahan masyarakat soal perilaku generasi TikTok makin sering muncul. Banyak warganet mengeluhkan budaya flexing, rendahnya literasi digital, penyebaran hoaks, konten kasar, hingga perilaku remaja yang dianggap makin kehilangan etika akibat pengaruh media sosial. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya sadar sedang menghadapi krisis moral di ruang digital. Ironisnya, semua ini terjadi ketika Indonesia sedang menikmati pertumbuhan teknologi yang sangat cepat. Kita bicara soal transformasi digital, AI, internet cepat, bahkan pengembangan jaringan masa depan. Tetapi dalam waktu yang sama, kita justru mengalami kemunduran etika sosial. Teknologi memang membawa kemajuan besar. Tetapi tanpa moral dan karakter, teknologi hanya akan mempercepat penyebaran kemarahan, kebencian, dan kepalsuan.
Kita mulai melihat generasi yang lebih mudah tersinggung, cepat menghakimi, dan haus perhatian. Sedikit berbeda pendapat langsung menyerang. Sedikit kecewa langsung diviralkan. Bahkan rasa empati perlahan ikut hilang. Orang lebih suka merekam kecelakaan daripada membantu korban. Orang lebih cepat mengetik komentar kasar daripada mencoba memahami keadaan orang lain. Penderitaan orang lain sering dijadikan bahan hiburan dan konten. Kalau keadaan ini terus dibiarkan, kita akan melahirkan generasi yang pintar bermain algoritma tetapi gagal memahami kemanusiaan.
Padahal masyarakat timur sejak dulu punya nilai budaya yang kuat dalam menjaga hubungan antarmanusia. Dalam budaya Bugis-Makassar misalnya, ada sipakatau yang berarti saling memanusiakan. Ada sipakalebbi yang berarti saling menghargai. Ada siri’ yang mengajarkan manusia supaya menjaga rasa malu dan kehormatan diri. Sayangnya, nilai-nilai itu perlahan kalah oleh budaya viral dan validasi sosial. Karena itu, tantangan terbesar bangsa hari ini sebenarnya bukan hanya soal ekonomi atau teknologi, tetapi soal moral generasi mudanya. Orang tua harus kembali hadir mendidik anak, bukan sekadar memberi kuota internet. Guru harus kembali dihormati sebagai pembimbing, bukan dijadikan bahan konten. Sekolah harus kembali menguatkan pendidikan karakter, bukan hanya mengejar ranking akademik. Dan generasi muda sendiri harus sadar bahwa menjadi modern tidak berarti kehilangan etika.
Sebab pada akhirnya, manusia mungkin terkenal karena kontennya. Tetapi manusia akan dihormati karena akhlaknya. Kalau generasi muda kehilangan moral dan rasa hormat, maka bangsa ini mungkin akan maju secara teknologi, tetapi rapuh secara kemanusiaan.
Leave a Reply