Oleh: Agung Rinaldy Malik – Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar
WICARA.CO.ID, MAKASSAR — Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Namun, di tengah derasnya arus digitalisasi, polarisasi sosial, dan pertarungan narasi di ruang publik, peringatan ini seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan yang dipenuhi slogan dan unggahan media sosial. Hari Lahir Pancasila perlu dimaknai sebagai momentum refleksi. Sejauh mana nilai-nilai Pancasila masih hidup dalam cara kita berpikir, berbicara, dan memperlakukan sesama warga bangsa.
Pancasila sesungguhnya tidak hanya hadir dalam dokumen kenegaraan. Ia hidup dalam bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Dalam setiap pilihan kata, cara berdialog, dan sikap menghargai perbedaan, Pancasila menemukan bentuk nyatanya. Karena itu, ancaman terhadap Pancasila tidak selalu datang dalam bentuk gerakan besar yang tampak kasatmata. Kadang-kadang ia hadir dalam bentuk ujaran kebencian, hoaks, perundungan digital, hingga budaya saling merendahkan yang kini semakin mudah ditemukan di ruang media sosial.
Sebagai dosen di Fakultas Bahasa dan Sastra, saya memandang bahwa bahasa memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai Pancasila. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan medium pembentukan cara berpikir dan karakter kebangsaan. Ketika bahasa digunakan untuk menyebarkan kebencian, maka yang terkikis bukan hanya etika berkomunikasi, tetapi juga fondasi persatuan bangsa. Sebaliknya, ketika bahasa digunakan untuk membangun dialog, menghormati perbedaan, dan mencari titik temu, maka sesungguhnya kita sedang menghidupkan Pancasila dalam praktik keseharian.
Tantangan terbesar generasi saat ini bukanlah kurangnya akses informasi, melainkan melimpahnya informasi tanpa kebijaksanaan. Kita hidup pada zaman ketika setiap orang dapat menjadi produsen narasi. Dalam hitungan detik, sebuah opini dapat menyebar ke ribuan bahkan jutaan orang. Sayangnya, tidak semua narasi dibangun di atas nilai-nilai kebangsaan. Banyak di antaranya justru memecah belah, mengadu domba, dan menguatkan sekat-sekat identitas yang seharusnya dapat dijembatani oleh semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Di sinilah relevansi Pancasila semakin menemukan urgensinya. Pancasila bukan warisan masa lalu yang disimpan di lemari sejarah. Ia adalah kompas moral yang membantu bangsa ini menavigasi perubahan zaman. Ketika dunia menghadapi krisis kepercayaan, konflik identitas, dan fragmentasi sosial, Indonesia memiliki modal sosial yang sangat berharga berupa Pancasila. Nilai ketuhanan mengajarkan integritas, nilai kemanusiaan menumbuhkan empati, nilai persatuan memperkuat kohesi sosial, nilai kerakyatan mendorong dialog yang sehat, dan nilai keadilan sosial menjadi orientasi bersama dalam pembangunan bangsa.
Bagi dunia pendidikan, Hari Lahir Pancasila menjadi pengingat bahwa tugas perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga warga negara yang berkarakter. Kampus harus menjadi ruang tumbuhnya nalar kritis yang tetap berakar pada etika, ruang dialog yang menghargai keberagaman gagasan, serta ruang pembelajaran yang menempatkan kemanusiaan sebagai tujuan utama ilmu pengetahuan. Pendidikan yang kehilangan nilai-nilai Pancasila berisiko melahirkan generasi yang pintar, tetapi miskin empati; terampil, tetapi kehilangan arah moral.
Sebagai bangsa yang dibangun dari ribuan pulau, ratusan bahasa daerah, dan beragam latar budaya, Indonesia tidak dapat bertahan hanya dengan kesamaan identitas. Yang menjaga Indonesia tetap utuh adalah kesediaan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Pancasila hadir sebagai titik temu yang mempertemukan seluruh keberagaman tersebut dalam satu cita-cita kebangsaan.
Karena itu, memperingati Hari Lahir Pancasila berarti memperbarui komitmen untuk menjaga Indonesia melalui tindakan nyata. Dimulai dari hal-hal sederhana: menggunakan bahasa yang santun, menghargai pendapat yang berbeda, menolak penyebaran hoaks, mengedepankan dialog daripada caci maki, serta menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh pertentangan, Indonesia membutuhkan lebih banyak suara yang menyatukan daripada memecah belah. Dan di situlah Pancasila menemukan maknanya yang paling mendalam: bukan sekadar untuk dihafal, melainkan untuk dihidupi.
Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026.
Karena Indonesia tidak hanya dibangun oleh kesamaan, tetapi dipertahankan oleh kesediaan untuk saling menghormati dalam keberagaman.
Leave a Reply