Kakanda, Adinda, dan Bahasa Politik Bahlil

Bahlil Lahadalia (Fraksi Golkar)

Oleh: Muh. Ikbal (Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra UNM)

WICARA.CO.ID, MAKASSAR — Jika mendengar kata adinda atau kakanda hari-hari ini, mungkin yang pertama terlintas di kepala publik bukan lagi surat cinta lama, bukan pula percakapan bangsawan dalam roman klasik, melainkan sosok Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM, yang belakangan kerap memakai sapaan itu dalam berbagai kesempatan. Setiap kali Bahlil menyebut adinda atau kakanda, potongan videonya mudah viral.

Publik tertawa, meniru, bahkan menjadikannya bahan percakapan di media sosial. Namun, di balik kesan lucu dan khas itu, sapaan adinda dan kakanda sebenarnya bukan bahasa yang muncul tiba-tiba dari gaya personal Bahlil. Bahasa itu memiliki akar panjang dalam tradisi organisasi, terutama di lingkungan Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI, tempat Bahlil pernah tumbuh sebagai aktivis.

Sapaan adinda dan kakanda bukan sekadar pemanis kalimat. Ia adalah bahasa keakraban, bahasa senioritas, sekaligus bahasa emosional yang mampu mencairkan suasana. Dalam kultur HMI, panggilan seperti ini telah lama menjadi penanda hubungan kader — ada yang dituakan sebagai kakanda, ada yang disapa dengan hangat sebagai adinda. Karena itu, ketika Bahlil memakai istilah tersebut di ruang publik, ia seolah membawa kembali bahasa perkaderan HMI ke panggung politik nasional. Kata yang dulu hidup di forum komisariat, latihan kader, kongres, dan diskusi aktivis kini berubah menjadi bahasa viral yang dikonsumsi publik luas.

Secara bahasa, kakanda bukan istilah baru. KBBI mendefinisikan kakanda sebagai kakak dalam bentuk yang lebih hormat dan lebih mesra, sedangkan adinda berarti adik dengan pengertian lebih hormat dan ramah. KBBI juga menjelaskan bentuk -anda, -nda, dan -da sebagai bentuk terikat yang menyatakan hormat atau kekeluargaan, seperti ayahanda, ibunda, dan pamanda. Jadi, dari asal-usul kebahasaan, kakanda dan adinda berasal dari ragam sapaan kekerabatan yang diperhalus. Ia bukan sekadar panggilan, melainkan cara bahasa Indonesia membungkus relasi sosial dengan rasa hormat, kelembutan, dan kedekatan.

Namun, dalam HMI, kata itu memperoleh makna organisasi. Di lingkungan Himpunan Mahasiswa Islam, kanda, yunda, dan adinda telah lama menjadi tradisi sapaan antar-kader. Sapaan itu menandai hubungan senior-junior, tetapi tidak semata-mata dalam arti hierarki kaku. Ia juga memuat rasa persaudaraan, jaringan emosional, dan identitas kader. Hubungan persaudaraan kader HMI diperkuat oleh panggilan khas seperti abang, kakak, kakanda, dan adinda, bahkan ketika sesama kader atau alumni belum pernah bertemu sebelumnya.

Di sinilah letak menariknya. Ketika Bahlil memakai adinda, ia tidak sedang hanya memilih kata yang manis. Ia sedang mengaktifkan memori sosial HMI: senior berbicara kepada junior, kader lama menyapa kader muda, orang lapangan menyapa lawan bicara dengan bahasa organisasi yang cair. Dalam kultur HMI, panggilan seperti ini bisa membuat percakapan yang tegang terasa lebih akrab. Kritik bisa terasa tidak langsung menyerang. Pertanyaan tajam bisa dijawab dengan nada yang seolah-olah familial. Adinda membuat lawan bicara tidak ditempatkan sebagai musuh debat, tetapi sebagai bagian dari lingkar percakapan.

Secara teori, ini dapat dibaca melalui teori kesantunan Brown dan Levinson. Dalam teori tersebut, kesantunan positif bekerja dengan cara membangun kedekatan, mencari titik temu, dan memakai penanda identitas kelompok. Brown dan Levinson menyebut penggunaan penanda identitas kelompok, termasuk bentuk sapaan, sebagai strategi untuk membangun common ground atau rasa kita. Maka, adinda dan kakanda berfungsi sebagai strategi kesantunan positif: ia menurunkan jarak psikologis, mengurangi kesan konfrontatif, dan membuat percakapan lebih mudah diterima.

Dari sisi teori akomodasi komunikasi, gaya seperti ini juga bisa dipahami sebagai upaya menyesuaikan cara bicara agar hubungan sosial terasa lebih dekat. Communication Accommodation Theory menjelaskan bahwa orang sering menyesuaikan perilaku komunikatifnya dalam interaksi sosial, termasuk melalui pilihan kata, gaya bicara, dan penyesuaian terhadap lawan bicara. Salah satu bentuknya adalah convergence, yaitu membuat gaya komunikasi terasa lebih dekat atau serupa dengan mitra bicara. Dalam konteks Bahlil, adinda menjadi alat convergence: bahasa pejabat dibuat terasa seperti bahasa perkaderan, bahasa negara dibungkus dengan bahasa warung kopi aktivis.

Karena itu, kata kakanda dan adinda dapat menurunkan emosi, setidaknya pada level suasana percakapan. Ketika seseorang sedang marah lalu dipanggil adinda, tensi bisa turun karena sapaan itu menggeser bingkai hubungan dari konflik menjadi kekeluargaan. Sapaan tersebut seolah mengatakan bahwa kita bukan lawan, kita masih satu ruang percakapan. Inilah kekuatan kata sapaan dalam budaya Indonesia. Ia bukan hanya menyebut orang, tetapi juga mengatur suhu sosial.

Akan tetapi, efeknya tidak selalu netral. Di satu sisi, kakanda dan adinda dapat menjadi bahasa keakraban, penghormatan, dan pelembut konflik. Di sisi lain, jika dipakai dalam relasi kuasa yang timpang, sapaan itu bisa terasa paternalistik — senior menenangkan junior, elite menepuk bahu publik, atau pejabat meredam kritik dengan kehangatan simbolik. Karena itu, ada pula kritik yang melihat fenomena kakanda-adinda dalam politik sebagai tanda kuatnya kultur senioritas atau bahkan feodalisme bahasa.

Viralnya kanda Bahlil memperlihatkan satu hal penting —politik hari ini tidak hanya dibentuk oleh kebijakan, tetapi juga oleh gaya bicara. Kata yang dulu hidup dalam forum komisariat, LK, kongres, dan warung kopi aktivis kini masuk ke TikTok, Reels, podcast, dan ruang komentar. Bahasa HMI yang dahulu bersifat internal berubah menjadi meme politik nasional. Bahlil membuatnya terdengar kembali, tetapi akarnya jauh lebih tua daripada viralitas media sosial.

Leave a Reply