Ramadan dan Deflasi Kata-kata Kotor

Ilustrasi Ujaran Kebencian

Oleh: Muh.Ikbal (Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra UNM)

WICARA.CO.ID, MAKASSAR — Menjelang Ramadan, ada satu gejala sosial yang sering luput kita syukuri sekaligus kita curigai deflasi kata kata kotor. Di ruang digital yang biasanya bising oleh umpatan, nyinyir, dan serangan personal, tiba tiba terjadi penurunan tajam. Linimasa mendadak lebih halus, lebih santun, lebih penuh salam, lebih rajin mengingatkan diri. Seolah olah Ramadan menjadi rem kolektif yang menahan lidah, sekaligus menahan jempol.

Seperti yang kita tahu, reputasi warganet Indonesia tidak selalu ramah. Dalam studi tahunan Microsoft tentang Digital Civility Index, Indonesia dilaporkan berada di peringkat 29 dari 32 wilayah yang disurvei, dengan survei melibatkan sekitar 16.000 responden di 32 wilayah dan dilakukan pada April hingga Mei 2020. Dengan kata lain, ekosistem percakapan online kita pernah dibaca sebagai salah satu yang paling rawan pengalaman negatif di kawasan.

Yang menarik, ukuran ketidaksantunan itu bukan sekadar soal selera berkomentar, tetapi terkait risiko yang membentuk suasana. Dalam ulasan atas temuan DCI, disebutkan kenaikan hoaks dan penipuan online hingga 13 poin, disertai kenaikan ujaran kebencian 5 poin. Ketika hoaks dan penipuan naik, orang mudah tersulut. Ketika ujaran kebencian naik, perbedaan pendapat berubah menjadi penghinaan. Lalu algoritma bekerja seperti pengeras suara, yang paling marah sering paling cepat menyebar.

Di titik itu, Ramadan datang bak oase di gurun pasir Bukan karena mesin media sosial tiba tiba menjadi bijak, melainkan karena banyak orang mengubah niat, memperbarui kontrol diri, dan ingin terlihat selaras dengan suasana sakral. Data perilaku digital pun memberi petunjuk bahwa orientasi publik memang bergeser ke arah yang lebih religius saat Ramadan. Di YouTube, penelusuran istilah terkait gaya hidup Islami atau Muslim dilaporkan melonjak 2,3 kali dari Ramadan 2022 ke 2023. Bahkan pola menonton ikut berubah, waktu tonton meningkat tajam pada momen sahur dan naik lagi pada jam jam kumpul seperti berbuka.

Kecenderungan itu muncul juga di ranah pencarian. Google pernah mencatat adanya kenaikan tahunan pada kueri terkait iman di Indonesia, lalu ekosistemnya diikuti banjir kata kunci spiritual yang viral saat Ramadan. Jadi, iya, Indonesia bisa tampak tiba tiba religius hanya di bulan Ramadan. Di satu sisi, ini kabar baik karena ruang digital mendapatkan jeda dari kebisingan. Di sisi lain, ini mengandung pertanyaan yang menohok mengapa kesantunan terasa mungkin hanya ketika ada kalender ibadah yang menekan tombol mode suci.

Masalahnya, deflasi kata kata kotor yang hanya musiman akan selalu diikuti inflasi baru setelahnya. Begitu Ramadan berlalu, sebagian dari kita kembali pada kebiasaan lama, komentar tajam dianggap hiburan, serangan personal dianggap keberanian, dan membalas dengan kasar dianggap menang. Padahal inti kedewasaan beragama justru terlihat ketika kontrol diri tidak bergantung pada musim. Jika kita bisa menahan umpatan selama sebulan, berarti kita mampu menahannya sepanjang tahun. Yang kurang bukan kemampuan, melainkan kemauan dan kebiasaan.

Karena itu, pekerjaan rumahnya sederhana tapi berat menjadikan rem Ramadan sebagai fitur permanen. Mulai dari kebiasaan paling kecil jeda sebelum membalas, bukan jeda demi merangkai kata yang lebih tajam, tetapi jeda untuk bertanya apakah ini benar, perlu, dan pantas. Menyelesaikan perbedaan tanpa mempermalukan, menolak hoaks tanpa merendahkan, mengoreksi tanpa menghardik. Memindahkan nasihat dari panggung komentar ke ruang privat ketika tujuannya memang membantu, bukan menang.

Ramadan seharusnya bukan hanya bulan deflasi kata kata kotor, tetapi bulan latihan untuk menstabilkan nilai bahasa kita. Setelah itu, stabilitasnya harus dijaga. Jangan sampai yang kita rem hanya mulut selama puasa, sementara jempol tetap menjadi pabrik kebencian. Kata kata kotor tidak hanya direm saat bulan Ramadan. Kalau kita sungguh ingin merawat makna Ramadan, ukurannya bukan seberapa religius linimasa kita sebulan, melainkan seberapa manusiawi percakapan kita sebelas bulan setelahnya.

Leave a Reply