Opini: Muh. Ikbal (Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar)
WICARA.CO.ID, MAKASSAR — Peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April tidak semestinya dimaknai sekadar sebagai penghormatan simbolik terhadap sosok perempuan pelopor emansipasi di Indonesia. Lebih dari itu, Hari Kartini harus ditempatkan sebagai momentum reflektif untuk meninjau kembali relasi antara perjuangan kesetaraan, akses terhadap pendidikan, dan pembangunan peradaban bangsa. Dalam konteks inilah, pemikiran Kartini tetap relevan, bahkan mendesak, untuk dihadirkan kembali di tengah berbagai tantangan pendidikan kontemporer.
Kartini paham betul bahwa pendidikan merupakan instrumen fundamental untuk membebaskan manusia dari kebodohan, ketertinggalan, dan keterkungkungan sosial. Pendidikan, bagi Kartini, bukan semata proses penguasaan pengetahuan, melainkan jalan untuk membentuk kesadaran, martabat, dan kemampuan menentukan masa depan. Oleh sebab itu, perjuangan Kartini sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari gagasan besar tentang transformasi sosial melalui pendidikan. Ia melihat dengan jernih bahwa suatu bangsa tidak akan maju apabila separuh dari warganya, yakni perempuan, tidak memperoleh kesempatan yang adil untuk belajar dan berkembang.
Dalam konteks Indonesia masa kini, akses pendidikan bagi perempuan memang telah mengalami kemajuan yang signifikan. Perempuan telah hadir dalam berbagai jenjang pendidikan, berkiprah di ruang akademik, dan mengambil peran penting dalam berbagai sektor strategis kehidupan. Namun demikian, kemajuan tersebut tidak boleh membuat kita menutup mata terhadap persoalan mendasar yang masih mengemuka. Ketimpangan mutu pendidikan antarwilayah, keterbatasan sarana belajar, kesenjangan sosial-ekonomi, serta masih adanya bias kultural terhadap peran perempuan menunjukkan bahwa cita-cita pendidikan yang setara dan memerdekakan belum sepenuhnya terwujud.
Memperingati Hari Kartini harus dimaknai sebagai panggilan untuk meneguhkan kembali orientasi pendidikan nasional. Pendidikan tidak boleh direduksi hanya menjadi sarana memperoleh ijazah, pekerjaan, atau mobilitas sosial semata. Pendidikan harus diletakkan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya: manusia yang bernalar kritis, berintegritas, berkepekaan sosial, dan memiliki tanggung jawab moral terhadap lingkungan sekitarnya. Dalam perspektif ini, semangat Kartini sesungguhnya sejalan dengan tujuan pendidikan yang memanusiakan manusia dan membangun masyarakat yang berkeadaban.
Dunia pendidikan juga perlu menjadi ruang yang sungguh-sungguh inklusif, aman, dan adil bagi semua peserta didik. Sekolah dan perguruan tinggi harus mampu menanamkan nilai kesetaraan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan pengakuan atas hak setiap individu untuk berkembang sesuai potensinya. Pendidikan yang berkualitas tidak hanya ditandai oleh capaian akademik, tetapi juga oleh kemampuannya membentuk karakter serta memperluas cakrawala berpikir peserta didik agar mampu menghadapi kompleksitas zaman dengan kebijaksanaan.
Peran perempuan dalam pendidikan juga perlu terus diperkuat, bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai aktor utama perubahan. Dalam realitas sosial kita, banyak perempuan hadir sebagai guru, dosen, peneliti, ibu, pemimpin, dan penggerak komunitas yang berkontribusi nyata dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kehadiran mereka merupakan kelanjutan konkret dari perjuangan Kartini. Oleh karena itu, penghormatan terhadap Kartini seyogianya diwujudkan melalui dukungan yang lebih serius terhadap kebijakan dan praktik pendidikan yang memberi ruang luas bagi perempuan untuk tumbuh, memimpin, dan berinovasi.
Hari Kartini harus dibaca sebagai pengingat bahwa pendidikan adalah agenda peradaban. Bangsa yang ingin maju tidak cukup hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga harus membangun manusia yang cerdas, merdeka, dan berakhlak. Dalam kerangka itulah, warisan Kartini menemukan maknanya yang paling mendalam. Menghormati Kartini bukan hanya dengan mengenang namanya, melainkan dengan melanjutkan cita-citanya: menghadirkan pendidikan yang adil, bermutu, dan memerdekakan bagi seluruh anak bangsa. Selama masih ada ketimpangan akses, mutu, dan kesempatan dalam pendidikan, maka perjuangan Kartini sesungguhnya masih terus menuntut penyempurnaan.
Leave a Reply