WICARA.CO.ID, JAKARTA — Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia, Mahfuz Sidik, mendorong negara-negara di kawasan Teluk segera merancang aliansi baru pascaperang guna mengurangi dominasi Amerika Serikat di Timur Tengah, baik dalam bidang ekonomi, politik, maupun militer.
Pandangan itu ia sampaikan dalam diskusi Bola Liar Kompas TV bertema “Iran Unggul Strategis, Trump Mau Invasi Darat atau Negosiasi?” yang digelar di Jakarta, Jumat malam, 27 Maret 2026. Pernyataan tersebut kembali disampaikan dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Menurut Mahfuz, gagasan aliansi kawasan tidak cukup hanya melibatkan enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Oman, dan Bahrain. Ia menilai kerja sama tersebut juga semestinya membuka ruang bagi negara-negara lain di Timur Tengah seperti Iran, Irak, dan Turki.
Mahfuz menilai perang yang terjadi saat ini menjadi penanda melemahnya pengaruh Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Ia menyebut dinamika konflik tersebut memperlihatkan bahwa dominasi ekonomi, politik, dan militer Washington tidak lagi sekuat sebelumnya.
Dalam pandangannya, Amerika Serikat dan Israel justru berada dalam posisi sulit dalam menghadapi Iran. Mahfuz mengatakan Presiden AS Donald Trump telah melakukan kesalahan perhitungan dan kini lebih memikirkan bagaimana mengakhiri perang secepat mungkin.
Ia juga menilai kemungkinan invasi darat oleh Amerika Serikat sangat kecil. Menurutnya, wacana itu lebih merupakan bagian dari strategi politik Trump untuk membeli waktu dan menjaga citra di hadapan publik domestik maupun dunia internasional.
Mahfuz berpendapat operasi militer Amerika terhadap Iran sejak awal tidak memiliki tujuan yang benar-benar jelas. Ia membandingkan situasi Iran dengan Venezuela dan menyebut pendekatan yang mungkin dianggap berhasil di tempat lain tidak bisa diterapkan begitu saja terhadap Teheran.
Selain itu, Mahfuz menyoroti upaya negosiasi yang disebut-sebut melibatkan Turki, Pakistan, dan Qatar. Namun, menurut dia, sinyal negosiasi dari Amerika tidak mendapat respons positif dari Iran, terutama karena tuntutan yang diajukan
Washington dinilai terlalu besar dan sulit diterima.
Ia menegaskan, dalam konflik ini Amerika Serikat tidak memperoleh keuntungan strategis yang berarti. Bahkan, kata dia, dukungan Washington terhadap agenda Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru membuat situasi semakin rumit.
Meski demikian, Mahfuz mengingatkan bahwa risiko eskalasi tetap terbuka. Ia menyebut tekanan politik di dalam negeri yang dihadapi Trump maupun Netanyahu dapat mendorong langkah-langkah yang lebih berbahaya, termasuk kemungkinan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Mahfuz juga menilai perang berkepanjangan berpotensi menimbulkan dampak global, terutama di sektor energi. Jika eskalasi terus meluas dan melibatkan aktor-aktor lain di kawasan, dunia bisa menghadapi tekanan baru akibat krisis pasokan energi dan gas.
Diskusi tersebut turut menghadirkan sejumlah narasumber lain dari kalangan militer, akademisi, peneliti, dan jurnalis, yang membahas dinamika konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel dari sudut pandang strategis serta geopolitik kawasan.
Leave a Reply