Oleh: Muh. Ikbal (Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra UNM)
WICARA.CO.ID, MAKASSAR — Kurang lebih sepekan lagi Idulfitri tiba. Jalanan mulai padat, terminal dan bandara ramai, tiket perjalanan makin diburu, dan satu kata kembali hidup dalam ingatan banyak orang: mudik. Bagi para perantau, mudik bukan sekadar perjalanan pulang menuju rumah, melainkan perjalanan batin untuk kembali kepada asal. Kita pulang ke halaman, ke keluarga, ke masakan rumah, ke suara azan dari masjid kampung, dan sering kali tanpa sadar, kita juga pulang ke bahasa ibu.
Di tengah kesibukan hidup di kota, bahasa sering berubah menyesuaikan ruang. Seseorang yang lahir dan besar dengan bahasa daerah perlahan terbiasa memakai bahasa Indonesia formal di kampus, bahasa gaul di pergaulan, bahkan campuran istilah asing di dunia kerja. Lama-kelamaan, bahasa ibu tidak hilang, tetapi kerap tersimpan di sudut ingatan. Ia jarang dipakai, kecuali ketika menelepon orang tua, menyapa nenek, atau pulang ke kampung halaman. Karena itu, mudik sesungguhnya bukan hanya momen pertemuan fisik, tetapi juga momen kembalinya lidah kepada akar.
Ada sesuatu yang berbeda ketika seseorang tiba di kampung dan mulai berbicara dengan bahasa ibu. Nada suara berubah lebih lunak. Sapaan terasa lebih akrab. Candaan menjadi lebih hidup. Bahkan emosi terasa lebih jujur. Kita mungkin bisa mengatakan “saya rindu” dalam bahasa Indonesia, tetapi ada kerinduan yang terasa lebih utuh ketika diucapkan dalam bahasa ibu. Sebab bahasa ibu bukan semata alat komunikasi. Ia adalah rumah pertama bagi perasaan, ingatan, dan identitas.
Di situlah mudik memiliki makna kebudayaan yang sangat penting. Selama ini kita sering membahas mudik dari sisi ekonomi, transportasi, kemacetan, atau tradisi tahunan. Padahal ada dimensi lain yang tak kalah penting, yakni dimensi bahasa. Setiap Lebaran, jutaan orang kembali ke kampung dan kembali mendengar bahasa yang mula-mula membesarkan mereka. Anak-anak yang lahir di kota mendengar logat kakek-neneknya. Orang tua kembali memakai ungkapan-ungkapan lama yang jarang muncul di perantauan. Percakapan di ruang tamu, di dapur, di teras rumah, atau saat ziarah kubur menjadi ruang hidup bagi bahasa ibu.
Sayangnya, banyak orang belum melihat bahasa ibu sebagai sesuatu yang perlu dirawat. Kita sering menganggap bahasa daerah akan tetap ada dengan sendirinya, padahal kenyataannya tidak demikian. Bahasa bisa memudar ketika tidak lagi diwariskan. Bahasa bisa melemah ketika penuturnya mulai merasa malu memakainya. Dan bahasa bisa kehilangan generasi ketika anak-anak hanya mengenalnya sebagai “bahasa orang tua”, bukan bahasa dirinya. Dalam situasi seperti ini, mudik dapat menjadi ruang kecil tetapi sangat berarti untuk menghidupkan kembali kebiasaan berbahasa ibu di lingkungan keluarga.
Merawat bahasa ibu tentu tidak berarti menolak bahasa Indonesia, apalagi memusuhi bahasa asing. Kita tidak sedang memilih satu bahasa dan menyingkirkan yang lain. Yang kita perlukan adalah kesadaran bahwa setiap bahasa memiliki tempat dan martabatnya sendiri. Bahasa Indonesia mempersatukan kita sebagai bangsa. Bahasa asing membuka jendela dunia. Sementara bahasa ibu meneguhkan siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan nilai apa yang kita bawa sejak kecil. Orang yang kokoh identitas bahasanya justru biasanya lebih terbuka, bukan lebih sempit, karena ia berdiri teguh di atas akarnya sendiri.
Karena itu, Lebaran tahun ini bisa kita maknai lebih dalam. Selain saling memaafkan, bersilaturahmi, dan berbagi hidangan, mari pulang kampung juga dengan niat merawat bahasa ibu. Gunakan bahasa ibu saat berbicara dengan orang tua dan tetua kampung. Ajak anak-anak mengenal sapaan kekerabatan, peribahasa, doa-doa, atau ungkapan khas daerah. Biarkan mereka mendengar bagaimana kasih sayang, nasihat, gurauan, bahkan teguran terdengar dalam bahasa yang lahir dari tanah leluhurnya. Sebab bahasa tidak diwariskan lewat ceramah, melainkan lewat kebiasaan yang hangat dan berulang.
Mudik memberi kita kesempatan langka untuk memulihkan hubungan yang sering renggang karena jarak: hubungan dengan keluarga, dengan kampung halaman, dan juga dengan bahasa ibu. Barangkali selama ini kita terlalu sibuk mengejar masa depan sampai lupa menjaga yang membentuk diri kita sejak awal. Padahal di balik satu kata daerah yang sederhana, tersimpan sejarah keluarga, cara pandang hidup, dan kearifan lokal yang tidak selalu dapat diterjemahkan sepenuhnya ke bahasa lain.
Maka benar, salah satu peristiwa penting yang terjadi saat mudik Lebaran adalah kita kembali ke bahasa ibu kita. Kita kembali kepada bunyi-bunyi yang akrab sejak kecil. Kita kembali kepada cara menyapa yang lebih intim. Kita kembali kepada identitas yang paling mula. Dan di tengah dunia yang bergerak cepat dan seragam, pulang kampung sambil merawat bahasa ibu adalah bentuk kecil tetapi kuat untuk menjaga ingatan, akar, dan martabat kebudayaan kita.
Sebab pada akhirnya, tidak semua orang punya kampung yang bisa selalu dikunjungi. Tetapi selama bahasa ibu masih hidup di lidah dan di rumah-rumah kita, selama itu pula kita masih punya jalan untuk pulang.
Leave a Reply