WICARA.CO.ID, MAKASSAR — Genap satu tahun pasangan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin dan Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham memimpin kota ini, Jumat (20/2/2026). Dalam periode tersebut, sejumlah indikator ekonomi dan sosial disebut menunjukkan tren positif—mulai dari pertumbuhan ekonomi yang melampaui rata-rata nasional dan provinsi, hingga inflasi yang tetap terjaga.
Capaian itu, menurut sejumlah pihak, tidak hanya tampak dalam angka, tetapi juga mulai terasa pada program-program yang menyentuh masyarakat. Di antaranya pengendalian harga kebutuhan pokok lewat Gerakan Pangan Murah, serta percepatan transformasi digital yang melibatkan aparatur sipil negara (ASN) dan warga.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan, Ricky Satria, memaparkan data perekonomian Makassar pada momen refleksi satu tahun kepemimpinan bertagline MULIA di Lapangan Karebosi, Makassar, Jumat (20/2/2026). Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Makassar berada di atas capaian rata-rata provinsi dan nasional.
“Di kuartal III 2025, berdasarkan data terakhir yang kami terima, ekonomi Makassar tumbuh 5,39% year on year. Sementara pertumbuhan nasional sekitar 5,01% dan Sulawesi Selatan 5,04%,” kata Ricky.
Ia menambahkan, capaian tersebut juga lebih tinggi dibanding tahun 2024 yang berada pada kisaran 5,1–5,2%. Menurut Ricky, pertumbuhan ekonomi ini mulai memberi dampak, termasuk penurunan angka kemiskinan dari 4,97% pada 2024 menjadi 4,43% pada 2025. Tren penurunan, lanjutnya, juga tampak pada tingkat pengangguran dari 9,71% menjadi 9,6% pada tahun yang sama.
Selain pertumbuhan, Ricky menekankan pentingnya stabilitas harga. Ia menyampaikan bahwa inflasi Makassar pada 2025 berada dalam rentang sasaran nasional 2,5% plus-minus 1%. Makassar, kata dia, tercatat pada 1,19%—lebih rendah dibanding nasional (2,92%) dan Sulawesi Selatan (2,8%).
Saat sejumlah daerah mengalami tekanan harga, Ricky menilai Makassar relatif lebih stabil, termasuk dalam pengendalian harga pangan. Salah satu langkah yang disorot adalah Gerakan Pangan Murah yang digelar di berbagai titik, dengan distribusi langsung ke masyarakat. Makassar juga disebut sebagai daerah pertama di Sulawesi Selatan yang menerapkan pembayaran nontunai dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, pendekatan itu mempertemukan aspek sosial dan digitalisasi, bahkan menjadi model yang kemudian diadopsi di sejumlah kabupaten lain. Ia menilai inflasi yang terkendali bukan terjadi secara kebetulan, melainkan hasil kolaborasi dan program yang berjalan terstruktur.
Ricky juga melihat wajah Makassar kian dinamis dengan berbagai aktivitas urban lifestyle dan agenda kota seperti lari pagi, fun bike, komunitas, konser, festival kuliner, hingga geliat ekonomi kreatif. Ia menyebut kegiatan-kegiatan tersebut bukan hanya hiburan, tetapi ikut mendorong perputaran ekonomi dan mempercepat digitalisasi transaksi karena banyak pembayaran dilakukan secara nontunai.
“Mulai dari hotel, restoran, UMKM, transportasi, hingga pelaku kreatif. Makassar bukan hanya kota kerja, tapi kota hidup dan digital yang turut meningkatkan PAD,” ujarnya.
Ia memaparkan beberapa faktor yang dinilai menopang capaian tersebut. Pertama, digitalisasi yang dimulai dari perubahan perilaku, termasuk di kalangan ASN. Ricky menyebut kini lebih dari 70% ASN Kota Makassar telah menggunakan layanan digital seperti mobile banking dan QRIS.
Faktor berikutnya adalah akselerasi elektronifikasi melalui program Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) yang melibatkan dukungan lintas kementerian serta Bank Indonesia. Program ini diarahkan untuk memperkuat pendapatan asli daerah (PAD) melalui pembayaran nontunai untuk retribusi, pajak, hingga belanja pemerintah.
Ricky mencontohkan sejumlah pilot project, seperti pembayaran parkir di beberapa titik, retribusi pasar tradisional dan terminal di kawasan Daya, pembelian air tangki PDAM, serta retribusi pada sejumlah OPD yang mulai beralih ke sistem nontunai.
Ia menambahkan, kolaborasi dengan perbankan daerah dan bank lainnya, termasuk pemanfaatan Cash Management System, turut memperkuat sistem pendukung digitalisasi.
Dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi, pengendalian inflasi, dan transformasi digital, Ricky menyebut Makassar menunjukkan arah perkembangan yang semakin kuat. “Ini menjadi bukti kerja sama, inovasi, dan transformasi digital yang dimulai dari manusia hingga sistem,” pungkasnya. (*)
Leave a Reply